Posted by Posted by chandra-bisnis On 05.07

Diawali dengan cerita pendek yang sama dengan judul bukunya. Sang pengarang bercerita tentang kisah tragis matinya seorang Kakek penjaga surau di kota kelahiran tokoh utama cerpen itu. Dia - si Kakek, meninggal dengan menggorok lehernya sendiri setelah mendapat cerita dari Ajo Sidi-si Pembual, tentang Haji Soleh yang masuk neraka walaupun pekerjaan sehari-harinya beribadah di Masjid, persis yang dilakukan oleh si Kakek. Haji Soleh dalam cerita Ajo Sidi adalah orang yang rajin beribadah, semua ibadah dari A sampai Z ia laksanakan semua, dengan tekun. Tapi, saat "hari keputusan", hari ditentukannya manusia masuk surga atau neraka, Haji Soleh malah dimasukkan ke neraka. Haji Soleh memprotes Tuhan, mungkin dia alpa pikirnya. Tapi, mana mungkin Tuhan alpa, maka dijelaskanlah alasan dia masuk neraka. Merasa tersindir dan tertekan oleh cerita Ajo Sidi, Kakek memutuskan bunuh diri. Dan Ajo Sidi yang mengetahui kematian Kakek hanya berpesan kepada istrinya untuk membelikan kain kafan tujuh lapis untuk Kakek, lalu pergi kerja.

Itulah ringkasan dari cerpen pembuka. Ada bagian yang menarik perhatian saya dari cerpen ini, bagian dimana dikisahkan Tuhan berdialog dengan Haji Saleh, seorang yang seumur hidupnya hanya beribadah dan beribadah, dan Tuhan pun menjelaskan sebab kenapa ia masuk neraka.
‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh.
‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.'
Inilah kritik beliau kepada kita, dimana sebagai makhluknya kita terkadang terlalu egois mementingkan apa yang terjadi pada diri ini, tanpa mau berusaha melihat keadaan sekitar. Islam mengajarkan keseimbangan. Artinya, meski kita hidup di dunia hanya sementara, dan kehidupan di dunia hanyalah jembatan menuju kehidupan akhirat yang kekal, akan tetapi Islam sama sekali tidak menafikan kebutuhan duniawi kita.
Oleh karena itu, dalam Islam dikenal istilah Hablumminallah dan Hablumminannaas, yaitu hubungan vertikal antara manusia dengan Allah sang Pencipta, dan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya. Baik Hablumminallah maupun Hablumminannaas bukanlah hal yang terpisah, justru keduanya memiliki hubungan saling mempengaruhi dan menjelaskan.

Sebagaimana dalam firmannya :
“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat islam) umat pertengahan*….”(QS. Al-Baqarah:143)
Umat pertengahan yang dimaksudkan disini ialah umat yang adil, yang tidak berat sebelah baik ke dunia mahupun akhirat, tetapi seimbang antara keduanya.

0 comments

Posting Komentar