| Category: | Books |
| Genre: | Literature & Fiction |
| Author: | Tere Liye |
Bunda kaya raya yang berhati bening itu tercenung memandangi betapa lucunya Melati sang buah hatinya dari seorang lelaki berbudi luhur itu sedang tumbuh. Rambut ikalnya, mata bundarnya, wajah imutnya serta usianya yang masih 7 tahun, membuat bunda menyimpan begitu banyak asa yang kerap menyisakan tangis di setiap sisi hidupnya. Harapan akan sapaan Melati pada Bunda atau tatapan cinta Melati hanya berujung nestapa ketika fakta yang harus Bunda terima adalah hilangnya penglihatan, pendengaran Melati saat usia 3 tahun. bahkan hingga tahun ke tujuh Melati hanya bisa berkata "Baa.." atau bahkan membanting apapun yang berada di dekatnya untuk meluapkan amarahnya. Berkali berganti pengasuh disebabkan tak ada yang mampu bertahan menghadapi Melati.
Adalah Karang, pemuda usia 27 tahun yang menjadi pengharapan Bunda untuk membantu Melati. Sosok Karang yang tak terurus, dengan rambut gondrong, tampang brewokan, pemabuk, tak menyurutkan langkah Bunda tuk memintanya membantu kesembuhan Melati. Disebabkan oleh rekomendasi seorang gadis keturunan berprofesi sebagai dokter, Bunda mempercayai Karang meski Ayah tak menyukai Karang.
Karang menyukai anak-anak. itu adalah bagian masa lalunya. SEorang yatim piatu yang diangkat anak oleh lelaki baik beristrikan ibu gendut yang juga menyayangi Karang dan anak-anak lainnya sebab mereka tak dikaruniai anak. Kehidupannya yang keras tak menyurutkannya tuk bermimpi besar dalam membina anak jalanan dan mendirikan taman bacaan. Ia adalah semangat itu sendiri. Hingga hari itu ketika Karang dan anak-anak sedang melaksanakan wisata pulau, kapal yang mereka tumpangi tenggelam karena terpaan ombak dan badai. Hari itu kepiluan, kesedihan, kehilangan bermula. Anak-anak yang ia sayangi tak semua bisa terselamatkan menyisakan perasaan bersalah pada diri Karang.
Kenangan - kenangan buruk tentang kejadian hari itu selalu mengejar- tak henti mengejar Karang. Ia putus asa dan meninggalkan semuanya, anak-anak lain, rekan seperjuangan, taman baca. Kembali ke rumah ibu gendut yang telah ditinggal mati suaminya dan menjadi pemabuk, merutuki diri, dan tak peduli.
Tahun demi tahun berlalu dan Karang tetap ketus dan semakin tak terurus, hingga kehadiran Bunda di rumah itu serta permohonan Bunda agar melihat Melati kecilnya.
Kedatangan Karang menjadi hari-hari menentukan dalam perubahan Melati. Meski tak setuju dengan sikap kasar Karang, Bunda mencoba bersabar ketika Lelaki yang menjadi suaminya bersikeras mengusir Karang.
Melati bisu, buta, tuli, bukan berarti tak bisa belajar. Hanya Melati tak tau bagaimana berkomunikasi dengan semua orang sehingga membanting barang adalah hal yang menarik baginya untuk meluapkan perasaannya.
Novel yang menarik dan menyentuh karena diadopsi dari kisah nyata Hellen Keller, tentang seorang perempuan buta yang ternyata bisa mencerahkan dunia.
Selain itu, novel ini mengajak pembaca untuk mengasah ketajaman spiritual tentang keikhlasan dalam menerima kenyataan dari Allah dan mencoba untuk tidak terus menerus tenggelam dalam lumpur penyesalan. Sebuah karya yang mesti dibaca setelah membaca karya Tere Liye sebelumnya berjudul Hafalan Shalat Delisa. Semoga tercerahkan. Amin
Adalah Karang, pemuda usia 27 tahun yang menjadi pengharapan Bunda untuk membantu Melati. Sosok Karang yang tak terurus, dengan rambut gondrong, tampang brewokan, pemabuk, tak menyurutkan langkah Bunda tuk memintanya membantu kesembuhan Melati. Disebabkan oleh rekomendasi seorang gadis keturunan berprofesi sebagai dokter, Bunda mempercayai Karang meski Ayah tak menyukai Karang.
Karang menyukai anak-anak. itu adalah bagian masa lalunya. SEorang yatim piatu yang diangkat anak oleh lelaki baik beristrikan ibu gendut yang juga menyayangi Karang dan anak-anak lainnya sebab mereka tak dikaruniai anak. Kehidupannya yang keras tak menyurutkannya tuk bermimpi besar dalam membina anak jalanan dan mendirikan taman bacaan. Ia adalah semangat itu sendiri. Hingga hari itu ketika Karang dan anak-anak sedang melaksanakan wisata pulau, kapal yang mereka tumpangi tenggelam karena terpaan ombak dan badai. Hari itu kepiluan, kesedihan, kehilangan bermula. Anak-anak yang ia sayangi tak semua bisa terselamatkan menyisakan perasaan bersalah pada diri Karang.
Kenangan - kenangan buruk tentang kejadian hari itu selalu mengejar- tak henti mengejar Karang. Ia putus asa dan meninggalkan semuanya, anak-anak lain, rekan seperjuangan, taman baca. Kembali ke rumah ibu gendut yang telah ditinggal mati suaminya dan menjadi pemabuk, merutuki diri, dan tak peduli.
Tahun demi tahun berlalu dan Karang tetap ketus dan semakin tak terurus, hingga kehadiran Bunda di rumah itu serta permohonan Bunda agar melihat Melati kecilnya.
Kedatangan Karang menjadi hari-hari menentukan dalam perubahan Melati. Meski tak setuju dengan sikap kasar Karang, Bunda mencoba bersabar ketika Lelaki yang menjadi suaminya bersikeras mengusir Karang.
Melati bisu, buta, tuli, bukan berarti tak bisa belajar. Hanya Melati tak tau bagaimana berkomunikasi dengan semua orang sehingga membanting barang adalah hal yang menarik baginya untuk meluapkan perasaannya.
Novel yang menarik dan menyentuh karena diadopsi dari kisah nyata Hellen Keller, tentang seorang perempuan buta yang ternyata bisa mencerahkan dunia.
Selain itu, novel ini mengajak pembaca untuk mengasah ketajaman spiritual tentang keikhlasan dalam menerima kenyataan dari Allah dan mencoba untuk tidak terus menerus tenggelam dalam lumpur penyesalan. Sebuah karya yang mesti dibaca setelah membaca karya Tere Liye sebelumnya berjudul Hafalan Shalat Delisa. Semoga tercerahkan. Amin
0 comments
Posting Komentar